Nama : Puji Lestari
Kelas : 3EA17
NPM : 19210521
JURNAL 3
Warung Nasi Ampera
Peteuy Sambelna Seuhahladalada..
Bogor, Jurnal Bogor
Kenangan tentang tempat makan yang satu ini, sangat banyak mengisi relung rasa
bagi saya. Warung Nasi Ampera memang merupakan salah satu tempat makan yang
sudah eksis dan mampu bertahan selama puluhan tahun. Pasalnya, warung nasi yang
aslinya berasal dari Kota Kembang itu, memang menyuguhkan citarasa masakan
Sunda yang sangat pas buat lidah urang Sunda.
Tak heran, kaki ini ringan melangkah memasuki Warung Nasi Ampera yang lokasinya
berada di Jl. Kedung Halang Raya (Warung Jambu) Ruko 2 D-E itu, karena telah
merasa pasti akan menjumpai sensasi citarasa khas Pasundan yang kasohor, dan
terutama, kenangan rasa yang telah tercipta itu. Padahal, warung nasi tersebut
baru kali pertama disambangi.
Saat memasuki warung nasi yang menyewa ruko dua lantai dengan lebar bangunan 10
meter x 20 meter itu, suasana sudah ramai oleh para pengunjung. Nyaris seluruh
meja yang tersedia penuh terisi. Kebanyakan kalangan keluarga yang datang
bersama anak-anak mereka. Sebagian lagi, para karyawan bersama kolega-koleganya
tengah asyik menyantap menu-menu yang dihidangkan.
Menurut Aam Hermawan, pengelola Warung Nasi Ampera Warung Jambu Bogor, tempat
makannya memiliki kapasitas maksimal 160 kursi. “Tempat kami dibuka setiap hari
tanpa hari libur, mulai pukul 8.00 hingga pukul 22.00,” ujar Aam kepada Jurnal
Bogor, kemarin.
Dikatakan Aam, pemilik Warung Nasi Ampera yang dikelolanya, adalah pasangan
suami istri H. Hermana dan Hj. Euis yang tinggal di Kota Bandung. “Warung Nasi
Ampera yang pertama, dulu berlokasi di terminal Kebon Kalapa Bandung yang kini
sudah menjadi Jl. By Pass Soekarno Hatta. Saya juga agak lupa, kapan Ampera
pertama kali berdiri. Yang jelas, cabang dan franchisenya ada di berbagai
kota,” ujarnya.
Sebagai salah satu pilihan favorit pengunjung hingga saat ini, lanjut Aam,
Warung Nasi Ampera yang berlokasi di daerah Warung Jambu Bogor itu dibuka sejak
Juni 2006 lalu. “Di Bogor, Warung Nasi Ampera ada di dua lokasi, satu lagi kami
buka di Jl. Raya Tajur No.216 Ruko B-C, Bogor,” terangnya.
Jumlah menu yang disediakan di Warung Nasi Ampera, imbuh Aam, tidak lebih dari
50 jenis menu makanan. Untuk menu minumannya, tempat itu hanya menyediakan
sekitar 10 jenis minuman olahan di luar minuman botol, seperti aneka juice, es
jeruk, es teh manis.
“Untuk teh tawar dan lalapan sambal, kami sajikan gratis bagi para pengunjung.
Meski harga cabai kini sudah tinggi, kami tetap mempertahankan policy ini sejak
dari awal Ampera hadir untuk menjadi pilihan kuliner bagi masyarakat,” terang
Aam.
Harga menu-menu yang ditawarkan di tempat itu, dibandrol dengan harga mulai Rp
1.000 hingga Rp 10.000 untuk menu makanan dan Rp 7.000 sebagai harga tertinggi
untuk menu minuman, yakni juice.
“Dapat dikatakan, Warung Nasi Ampera merupakan tempat makan yang menawarkan
harga warteg dengan suguhan suasana restoran,” ungkapnya seraya menambahkan,
satu orang pengunjung rata-rata mengeluarkan Rp 15.000 untuk memuaskan selera
makannya.
Sedangkan menu makanan favorit para pengunjung, menurut Aam adalah ayam bumbu
kuning yang penyajiannya digoreng. Menu minuman favorit pengunjung, masih
bertahan di citarasa aneka juice, terutama juice alpukat. “Ada satu lagi menu
favorit pengunjung Warung Nasi Ampera, yaitu sambal-sambal yang disediakan,”
katanya.
Saya pun dipersilakan untuk mencoba citarasa menu masakan yang disediakan. Satu
tamusu atau iso, satu tahu kuning, satu tusuk bayah atau paru, dan tak lupa
musuh abadi yang kudu diganyang, yakni peteuy, dipilih untuk digorengkan
terlebih dahulu.
Tak berapa lama menunggu, menu-menu pilihan itu pun dihantarkan ke atas meja
lengkap dengan sepiring nasi putih, satu ranjang lalapan, satu mangkuk kecil
sambal, dan satu gelas teh tawar panas bukan hangat. Sebuah sajian hidangan
yang menurut saya, very very super duper banget dah.
Tanpa proses pendahuluan yang biasa saya lakukan, yakni tahap pencicipan,
sajian Sunda itu langsung menyatu dengan piring nasi. Lalapan yang terdiri dari
tiga jenis daun, yaitu daun salada, daun kemangi, dan daun kedondongan, saya
lalap tanpa sambal. Semua daun lalapannya sangat segar, wangi, dan mampu
menjadi appertizer bagi makanan utamanya.
Citarasa tamusu ternyata tak berubah, tetap menyuguhkan kelezatan bumbu yang
pas. Namun yang cukup istimewa adalah citarasa yang disuguhkan menu sate bayah.
Rasa yang muncul sungguh mirip rasa dendeng manis, namun lebih mantap karena
keempukan dan kelembutan bayahnya langsung menyeruak pada saat digigit.
Laju kunyahan pun saya kendalikan dengan mengambil birama, menanti nada apa
yang akan hadir mengiringi suasana santap itu. Setelah beberapa saat berlalu,
tak sebuah nada yang hadir. Tiba-tiba dalam relung rasa, hadir sebuah dongeng
sebelum tidur yang sewaktu kecil sering dikisahkan oleh almarhum ayahanda.
Cerita tentang sakadang kuya jeung sakadang monyet.
Kisah itu pun mengiring suapan demi suapan peteuy goreng yang bercocol sambal.
Gemeletuk peteuy yang tergigit, digerus menjadi padu bersama nasi putih dan
sambal oleh geraham. Sebuah rasa pedas yang indah pun muncul, rasa panas yang
mampu mengalirkan nada kata, “Seuhahladalada...”
http://rasajati.blogspot.com/2008/07/warung-nasi-ampera.html