Nama : Puji Lestari
Kelas : 3ea17
NPM : 19210521
JURNAL 2
Iga Bakar Mas Giri
Diposting oleh Indradya on Friday, September 24, 2010
Kali ini saya mau cerita soal kunjungan
kenegaraan saya ke satu resto iga bakar yang relatif baru di Kota Bandung.
Namanya "Iga Bakar Mas Giri". Saya pertama kali melihat resto ini
karena kebetulan sedang melintas di depan Taman Pramuka di Jl. R.E. Martadinata
(alias Jl. Riau) dengan Shogun saya yang keren itu. Jalan Riau memang terkenal
dengan banyak resto/warung makan enak dan juga deretan factory outlet-nya.
Waktu itu restonya lagi rame, dan banner-nya juga gede dan ngejreng dengan
warna dominan merah dan kuning. Mobil dan motor yang parkir hampir sama
banyaknya di area parkir yang cukup luas, dan keramaian itu membuat nafsu makan
saya curiga.
Sejak masuk dari pintu depan, aroma
wangi daging iga yang sedang dibakar sudah tercium. Dapurnya memang terlihat
dari ruang makannya, sehingga terkadang asap bakaran pun mampir menggoda hidung
pengunjung. Ruangan di dalamnya lega, dengan meja kayu dan empat kursi untuk
tiap mejanya. Pastinya resto ini cocok sekali untuk makan rame-rame dengan
keluarga atau teman-teman. Pada akhir pekan, siap-siap aja kehabisan
tempat. Resto ini menyediakan menu yang semuanya serba berbasis iga sapi. Sebut
saja iga bakar, iga penyet, steak iga, sop iga, gule iga, sate iga
goreng/bakar, nasi goreng iga, dan masih banyak lagi.
Resto ini, berdasarkan keterangan yang
saya baca di lembar menu, dimiliki oleh Sugiri. Pria ini pada 1996 hijrah ke
Medan dan membuka warung kaki lima dengan berbagai macam menu, khususnya
masakan ala Lamongan. Ternyata justru iga bakarnya yang diminati pengunjung.
Alhasil, dia pun melebarkan sayap dengan membuka warung iga bakar di beberapa
kota di luar Medan, hingga akhirnya buka di Bandung pada tahun ini.
Pada kunjungan saya yang kedua ini
(sebelumnya udah pernah sih), saya memesan nasi
goreng iga dan paket iga bakar yang terdiri dari iga bakar + nasi putih +
sambal + lalap. Tak lupa saya pesan seporsi tumis kangkung buat sayurnya. Iga
bakar di sini dikawal dengan potongan salada, tomat, dan timun, plus masih
ditemani semangkuk kecil kuah asin yang mirip sop. Maklum, iga bakarnya selalu
disiram dengan bumbu kecap nan lezat. Jadi buat Anda yang kurang suka yang
manis-manis, bisa celup-celup aja bakarnya ke sop ini.
Dan... wah, daging iganya empuk dan
lezat banget! Mau dipotong dulu pakai pisau atau langsung digigit, dagingnya
langsung 'tercerabut'...hehehe. Bagi beberapa orang, daging iganya mungkin
terlalu manis. Tapi ini bisa dinetralisir dengan sambal yang disediakan satu
pisin (yang cukup bikin keringetan, sebenarnya, kalau dimakan semua), atau
dengan sop tadi. Nasi gorengnya sih tergolong biasa saja. Untung masih ada
potongan-potongan daging iga yang agak besar dan tetap gurih dan empuk. Paling
top ya ditambah tumis kangkung tadi. Kalau menyimak rasa daging iganya, rasanya
nggak sulit membayangkan rasa sate iga atau gule iganya, yang sayangnya belum
sempat saya cicipi berhubung keterbatasan alokasi di perut. Yang pasti saya
akan kembali ke sini lagi kapan-kapan untuk membantai menu-menu yang belum
sempat saya cicipi. Oh ya, kalau mau mampir ke sini, sediakan selalu uang pas.
Terakhir saya makan di sini, resto ini belum menerima pembayaran elektronik.
Berikut ini daftar menu yang disediakan Iga Bakar Mas Giri:
Iga bakar 19rb (kecil) / 27rb
(besar)
Iga penyet 19rb (kecil) / 27rb
(besar)
Steak iga 19rb (kecil) / 27rb (besar)
Sop iga 27rb
Gule iga 27rb
Sate iga goreng/
bakar
27rb
Nasi goreng iga 15rb / 23rb
Paket ayam
bakar/penyet 19-21rb
Untuk minumannya, saya kira standar
saja. Ada beberapa macam jus buah dengan harga rata-rata 10 ribu dan minuman
lain seperti teh, kopi, dan teh botol. Oh ya, resto ini buka dari jam
11.00-23.00.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar